Minggu, 25 September 2016

Etika dan Egoisme




Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani kuno "ethos" (jamak: ta etha), yang berarti adat kebiasaan, cara berkipikir, akhlak, sikap, watak atau cara bertindak. Kemudian diturunkan kata ethics (Inggris), etika (indonesia). Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988, menjelaskan etika dengan membedakan tiga arti, yakni: Ilmu tentang apa yang baik dan buruk, kumpulan azas atau nilai, nilai mengenai benar dan salah, dan tanggung jawab sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Dengan pembedaan tiga definsi etika tersebut maka mendapatkan pemahaman etika yang lebih lengkap mengenai apa itu etika, sekaligus lebih mampu memahami pengertian etika yang sering sekali muncul dalam pembicaraan sehari-hari, baik secara lisan maupun tertulis. Objek etika adalah alam yang berubah, terutama alam manusia.


Analisis : etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang mempunyai pengertian sebagai adat kebiasaan, cara berkipikir, akhlak, sikap, watak atau cara bertindak yang timbul dari diri sendiri, individu dan kelompok  sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan sesuai dengan moral yang dilakukan seperti tindakan baik dan burul, benar dan salah, kumpulan azas atau nilai, dan tanggung jawab sebagai pedoman hidup bermasyarakat.

Prinsip-Prinsip Etika
Dalam peradaban sejarah manusia sejak abad keempat sebelum Masehi para pemikir telah mencoba menjabarkan berbagai corak landasan etika sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Para pemikir itu telah mengidentifikasi sedikitnya terdapat ratusan macam ide agung (great ideas). Seluruh gagasan atau ide agung tersebut dapat diringkas menjadi enam prinsip yang merupakan landasan penting etika, yaitu keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran.
a)      Prinsip Keindahan
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai-nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya sehingga membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja.

b)     Prinsip Persamaan
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbagai bidang lainnya. Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskrminatif atas dasar apapun.

c)      Prinsip Kebaikan
Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti hormat- menghormati, kasih sayang, membantu orang lain, dan sebagainya. Manusia pada hakikatnya selalu ingin berbuat baik, karena dengan berbuat baik dia akan dapat diterima oleh lingkungannya. Penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sesungguhnya bertujuan untuk menciptakan kebaikan bagi masyarakat.

d)     Prinsip Keadilan
Pengertian keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini mendasari seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain.

e)      Prinsip Kebebasan
Kebebasan dapat diartikan sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain. Oleh karena itu, setiap kebebasan harus diikuti dengan tanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang semena-mena kepada orang lain. Untuk itu kebebasan individu disini diartikan sebagai:
1.      kemampuan untuk berbuat sesuatu atau menentukan pilihan.
2.      kemampuan yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan
pilihannya tersebut.
3.      kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

f)       Prinsip Kebenaran
Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat. Tidak setiap kebenaran dapat diterima sebagai suatu kebenaran apabila belum dapat dibuktikan.Semua prinsip yang telah diuraikan itu merupakan prasyarat dasar dalam pengembangan nilai-nilai etika atau kode etik dalam hubungan antarindividu, individu dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan sebagainya. Etika yang disusun sebagai aturan hukum yang akan mengatur kehidupan manusia, masyarakat, organisasi, instansi pemerintah, dan pegawai harus benar-benar dapat menjamin terciptanya keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran bagi setiap orang.

Analisis : Etika juga mempunyai landasan atau prinsip-prinsip etika yang terdiri dari prinsip keindahan, prinsip persamaan, prinsip kebaikan, prinsip keadilan, prinsip kebebasan, dan prinsip kebenaran yang semua itu berdasarkan atau mencerminkan sikap atau pada pola perilaku individu atau kelompok sesuai dengan moral yang ada.

Basis Teori Etika
1.      Etika Teleologi
dari kata Yunani,  telos = tujuan,  Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
Dua aliran etika teleologi :
a)      Egoisme Etis
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadihedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.

b)      Utilitarianisme
berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja  satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah “the greatest happiness of the greatest number, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar.

2.      Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata  Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban. ‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai buruk’, deontologi menjawab:‘karena perbuatan pertama menjadi kewajiban  kita dan karena perbuatan kedua dilarang’. Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.

3.      Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi  baik buruknya  suatu perbuatan atau perilaku. Teori Hak merupakan suatu aspek  dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.

4.      Teori Keutamaan (Virtue)
memandang  sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah laku baik secara moral.
Contoh keutamaan :
a.       Kebijaksanaan
b.      Keadilan
c.       Suka bekerja keras
d.      Hidup yang baik

Analisis : Basis teori etika terdiri dari Etika Teleologi (tujuan), Deontologi (kewajiban), teori hak (pendekatan perilaku), teori keutamaan (virtue / memandang sikap seseorang).

Egoisme
Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah "egois". Lawan dari egoisme adalah altruisme.
Egoisme adalah cara untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, dan umumnya memiliki pendapat untuk meningkatkan citra pribadi seseorang dan pentingnya - intelektual, fisik, sosial dan lainnya. Egoisme ini tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak pada umunya dan hanya memikirkan diri sendiri. Kata "egoisme" merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno - yang masih digunakan dalam bahasa Yunani modern - ego (εγώ) yang berarti "diri" atau "Saya", dan-isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya. Dengan demikian, istilah ini secara etimologis berhubungan sangat erat dengan egoisme filosofis.

Analisis  : Egoisme merupakan salah satu dari sifat tidak benar dari etika itu sendiri, egoisme dapat diarikan sebagai suatu sifat atau perilaku seseorang, individu, atau kelompok yang selalu ingin mementingan diri sendiri atau kepentingannya tanpa memperdulikan kepentingan atau perasaan pihak lain, seseorang yang memliki sifat egoisme mereka tidak akan pernah puas atas apa yang mereka miliki dan tidak pernah memikirkaan nasib dan perasaan orang lain (hanya mementingkan dirinya sendiri saja).

Sabtu, 23 Juli 2016

Direct and Indirect Speech & Conditional If

Direct Speech adalah kalimat langsung / kutipan asli pada suatu pembicaraan tanpa adanya suatu perubahan. Penulisan Direct Speech selalu di apit oleh tanda kutip dan kalimat selalu di awali huruf kapital.
Indirect Speech adalah kalimat tidak langsung / bentuk kalimat yang menceritakan kembali pendapat / pembicaraan seseorang yang mengalami modifikasi tertentu.
·         Kalimat Positive :
1.      D : Dini said, “I go to campus everyday”
I : Dini said that she goes to campus everyday.
2.      D : Arif said, “I will give you a novel next week”
I : Arif said that he would give me a novel the following week.
3.      D : They said, “We are going to Bandung tomorrow”
I : They said that they were going to Bandung the following day.
4.      D : I said, “Sawal has been waiting for you since one hours”
I : I said that Sawal had been waiting for you for one hours.
5.      D : He said us, ”I have to go now”
I : He said to us that he had to go then.

·         Kalimat Negative :
1.      D : My mother told me, “Don’t come home late”
I : My mother told me not to come home late.
2.      D : Father asked me, “Don’t go out”
I : Father asked me no to go out.
3.      D : Desy asked, ”Don’t leave me alone”
I : Desy asked that to not leave him alone.
4.      D : My aunty told me, “Come and visit us tomorrow”
I : My aunty told to me to come and visit them the following day.
5.      D : She asked me, “Open the door please”
I : She asked me to open the door please.

·         Kalimat Question :
1.      D : My mother asked me, “Where are you last night?”
I : My mother asked me where was I that night.
2.      D : Anisa told to me, “Are you okay?”
I : Anisa told to me whether I was okay or not.
3.      D : I asked Riri, “Does you want to come with us?”
I : I asked Riri whether she wanted to come with us.
4.      D : I asked Lia, “Do you like coffee?”
I : I asked Lia whether she liked coffee.
5.      D : She asked me, “Can you speak English?”
I : She asked me whether I could speak English.

Conditional If
If I work hard, I will have a lot of money.
If I had a lot of money, I would buy an expensive bag.
If I were you, I would work in that company.
If I saw you more often, we could get to know each other better.
If I wasn’t so lazy, I’d start my own business.
If I studied more often, I might  get better grades
If you’d eaten your dinner, you wouldn’t have been hungry.
If it’d been sunny yesterday, we would’ve gone bo the Surabaya.
If I’d had the chance, I would have gone to Paris.

Minggu, 29 Mei 2016

Active dan Passive voice

Present Tense
1.      Active voice    : We visit our grandmother every three months
Passive voice   : Our grandmother is visited by us every three months

2.      Active voice    : Mega buy dress at Lazada every two weeks
Passive voice   : Dress is bought by Mega at Lazada every two weeks

3.      Active voice    : My sister eat bread every morning
Passive voice   : Bread is ate by my sister every morning

Past Tense
1.      Active voice    : I drunk coffee last week
Passive voice   : Coffee were drunk by me last week

2.      Active voice    : My brother cut hair last month
Passive voice   : Hair was cut by my brother last month

3.      Active voice    : Sinta write a letter yesterday
Passive voice   : Letter was written by Sinta yesterday

Future Tense
1.      Active voice    : I will go to Yogyakarta next month
Passive voice   : Yogyakarta will be gone by me next month

2.      Active voice    : My father will read newspaper tomorrow
Passive voice   : Newspaper will be read by my father tomorrow

3.      Active voice    : Andi will see beach next week
Passive voice   : Beach will be seen by Andi next week

Present Continous
1.      Active voice    : He is listening music now
Passive voice   : He is being listened music now

2.      Active voice    : My brother is washing car today
Passive voice   : My brother being washed car today

3.      Active voice    : I am take picture rainbow
Passive voice   : I am being taked picture rainbow

Present Perfect Tense
1.      Active voice    : Sari have eaten fried rice
Passive voice   : Sari have been eaten fried rice

2.      Active voice    : I have seen sunrise
Passive voice   : I have been seen sunrise

3.      Active voice    : My grandmother have gone to Malang
Passive voice   : My grandmother have been gone to Malang